Mari Kita Raih Keutamaan Sunnah Puasa Arafah

By | September 13, 2015
Tulisan ini sebagai pengingat bahwa insyaAllah besok, Rabu (23/9/2015) dalam kalender Masehi yang bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijah 1436 H dalam kalender hijriyah, ada satu amalan yang jangan dilewatkan begitu saja yakni Keutamaan Puasa Arafah.

Dalam artikel kami sebelumnya : Rangkaian Amalan yang Dikerjakan di Bulan Dzulhijah, telah dipaparkan beberapa amalan di Bulan Dzulhijah dan salah satunya adalah melaksanakan Puasa Arafah.


Sumber: https://www.bandungtimur.net/2015/09/qurban-pasca-shalat-idul-adha-amalan-paling-afdhal-di-bulan-dzulhijah.html
Artikel ini berasal dari bandungtimur.net. Terima kasih telah mencantumkan sumber artikel ini

Hari ini (selasa, 22/9/2015) saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji insyaAllah mulai bergerak dari pemondokan Mekah menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf (berdiam diri) di padang Arafah yang berada di sebelah timur luar kota Mekah (jarak Mekah ke Arafah sekitar 25 kilometer). Jemaah calon haji akan bersiap di pemondokkannya masing-masing untuk mengenakan pakaian ihram, mengambil miqat, dan berniat haji dengan melafalkan labbaik allahumma hajjan (ya Allah, saya penuhi panggilan-Mu untuk berhaji). Sebagian besar jemaah diberangkatkan dari pemondokkan langsung menuju padang Arafah. Namun, sebagian lagi akan melakukan tarwiyah atau tanazul yakni dari pemondokan menuju Mina terlebih dahulu untuk mabit (bermalam) sebelum pada Rabu pagi (9 Dzulhijah) ke Arafah.

Wukuf merupakan puncak ibadah haji. Kenapa disebut puncak ibadah haji? karena, “Alhajju Arofah” (Adapun haji adalah di Arafah). Inti ibadah haji adalah wukuf di Padang Arafah, yang merupakan syarat sahnya ibadah haji. Bila dalam rangkaian kegiatan haji jamaah tidak dapat melaksanakan wukuf dengan baik, maka tidak sah ibadah hajinya. Secara fisik, wukuf Arafah adalah puncak berkumpulnya seluruh jamaah, yang berjumlah jutaan dari seluruh penjuru dunia dalam waktu bersamaan. Secara amaliah, wukuf Arafah mencerminkan puncak penyempurnaan haji. Di Arafah inilah Rasulullah menyampaikan khutbahnya yang terkenal dengan nama khutbah wada’ atau khutbah perpisahan, karena tak lama setelah menyampaikan khutbah itu beliau wafat.
Wukuf dilaksanakan hanya pada satu hari (siang hari setelah matahari tergelincir sampai maghrib) pada tanggal 9 Dzulhijjah pada penanggalan Hijriyah.  Malamnya menuju Muzdalifah, pagi tanggal 10 dzulhijah jamaah haji menuju Mina untuk melaksanakan lempar Jumrah Aqabah, dan seterusnya.
Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Zulhijah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu ke arah tugu sebagai simbolisasi pelemparan terhadap setan) pada tanggal 10 Zulhijah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.
Kegiatan utama dalam ibadah haji berdasarkan urutan waktu adalah sebagai berikut:
  • Sebelum 8 Zulhijah, umat Islam dari seluruh dunia mulai berbondong untuk melaksanakan Tawaf Haji di Masjid Al Haram, Makkah.
  • 8 Zulhijah, jamaah haji bermalam di Mina. Pada pagi 8 Zulhijah, semua umat Islam memakai pakaian Ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), kemudian berniat haji, dan membaca bacaan Talbiyah. Jamaah kemudian berangkat menuju Mina, sehingga malam harinya semua jamaah haji harus bermalam di Mina.
  • 9 Zulhijah, pagi harinya semua jamaah haji pergi ke Arafah. Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang luas ini hingga Maghrib datang. Ketika malam datang, jamaah segera menuju dan bermalam Muzdalifah.
  • 10 Zulhijah, setelah pagi di Muzdalifah, jamaah segera menuju Mina untuk melaksanakan ibadah Jumrah Aqabah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali ke tugu pertama sebagai simbolisasi mengusir setan. Setelah mencukur rambut atau sebagian rambut, jamaah bisa Tawaf Haji (menyelesaikan Haji), atau bermalam di Mina dan melaksanakan jumrah sambungan (Ula dan Wustha).
  • 11 Zulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  • 12 Zulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.
  • Sebelum pulang ke negara masing-masing, jamaah melaksanakan Thawaf Wada’ (thawaf perpisahan).   
Mari kita doakan saudara-saudara kita agar Allah SWT menjadikan mereka haji yang mabrur dan mabrurah.

Apakah Keutamaan Sunnah Puasa Arafah ?



Nah, pada tanggal 9 dzulhijah saat para jemaah haji melaksanakn wuquf di Arafah, maka saudara-saudara muslim yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji disunnahkan melaksanakan puasa yang disebut Puasa Arafah. Puasa Arafah adalah puasa pada Hari Arafah, yaitu hari kesembilan dari bulan Dzulhijjah.

Adapun kaum muslimin yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, mereka malah tidak disunnahkan berpuasa arafah, seperti dijelaskan dalam hadits berikut ini.”

“Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan wukuf, lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Bukhari no. 1989 dan Muslim no. 1124)

Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi umat muslim yang tidak pergi haji, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Rasulullah S.A.W tentang puasa Arafah:

“ Dari Abu Qatadah Al-Anshariy (ia berkata),” Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah di tanya tentang (keutamaan) puasa pada hari Arafah?” Maka beliau menjawab, “ Menghapuskan (kesalahan) tahun yang lalu dan yang sesudahnya.” (HR. Muslim no.1162 dalam hadits yang panjang)


صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ 

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ





Dan puasa pada hari Arafah – aku (Nabi Muhammad SAW) mengharap dari Allah – menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang. Dan puasa pada hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram) –aku mengharap dari Allah menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu.” [Hadits Riwayat Shahih Muslim no. 1162, HR. Sunan Abu Dawud no. 2425-2426, HR. Sunan An-Nasa’iy no. 2826, HR. Sunan Ibnu Maajah no. 1730, HR. Al-Baihaqiy 4/286 & 300]

Di tanah air kita, tanggal 9 Dzulhijah 1436H insyaAllah besok, Rabu (23/9/2015).

Jangan Biarkan Keutamaan Sunnah Puasa Arafah Berlalu Begitu Saja !

Melihat keutamaan Puasa Arafah tersebut, bahwa sesuai harapan Nabi Muhammad SAW agar Allah mengampuni setahun sebelum dan sesudah puasa, sungguh sayang ya kita lewatkan begitu saja seandainya kita yang kebetulan sehat dan longgar bila kita tidak melaksanakan Puasa Arafah ini.
Mari kita raih pengampunan 2 tahun sekaligus yakni setahun sebelum puasa arafah dan setahun sesudah puasa arafah. Kalau tiap tahun kita melaksanakan puasa Arafah, wow berarti diampuni sepanjang tahun. 

Selamat Berpuasa Arafah ! 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *