4 Tali Keimanan Agar Hidayah Tidak Bablas

By | Oktober 22, 2015

Apakah yang dimaksud Iman/ Keimanan?

Dalam tulisan ini kita akan mengkaji tentang keimanan dan bagaimana menjaganya agar tidak terlepas, yakni di ikat dengan 4 (empat) Tali Keimanan.

Tahukah Anda, apakah pengertian atau definisi iman/ keimanan itu? Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa pengertian iman yakni :

 
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
” Bahwa kalian beriman (percaya) kepada Allah, beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, beriman kepada kitab-kitab-Nya,beriman kepada hari akhir, dan beriman kepada adanya takdir baik dan buruk “.
Hadits lengkapnya adalah sebagai berikut :

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَلْزَقَ رُكْبَتَهُ بِرُكْبَتِهِ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ فَمَا الْإِسْلَامُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ قَالَ فَمَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فِي كُلِّ ذَلِكَ يَقُولُ لَهُ صَدَقْتَ قَالَ فَتَعَجَّبْنَا مِنْهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَمَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَمَا أَمَارَتُهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ أَصْحَابَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ قَالَ عُمَرُ فَلَقِيَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ بِثَلَاثٍ فَقَالَ   يَا عُمَرُ هَلْ تَدْرِي مَنْ السَّائِلُ ذَاكَ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ مَعَالِمَ دِينِكُمْ  *  رواه الترمذى 

Artinya : Umar bin al Khathab berkata: “Suatu ketika kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas bekas perjalanan. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam kemudian berkata, “Wahai Muhammad, apakah iman itu? “. Rasulullah SAW menjawab: “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.” Dia bertanya; “Apa itu Islam? “. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Kesaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad hamba dan utusan Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melakukan haji, dan puasa Ramadhan.” Dia bertanya: “Apakah ihsan itu? ” . Beliau menjawab: “Kamu menyembah Allah seakan akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Umar berkata: “Pada setiap jawaban beliau dia mengatakan; “Kamu benar”. Umar berkata: “Maka kami heran kepadanya, dia bertanya kepada beliau, lalu membenarkannya”. Dia bertanya lagi: “Kapankah hari akhir itu? “. Beliau Rasulullah SAW menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” Dia bertanya: “Lalu apa tanda-tandanya? “, Beliau menjawab: “Apabila seorang budak melahirkan (anak) tuannya, dan kamu melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, penggembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan.” Umar berkata: “Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalam menemuiku tiga (hari) setelah itu, seraya berkata: “Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa penanya tersebut? Itulah jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang pengetahuan agama kalian.” HR. Tirmidzi

Nah, keimanan yang akan kita bahas di sini adalah pengertian iman / keimanan dalam arti “Hidayah / petunjuk dari Allah SWT” bisa meyakini dan mengamalkan agama Islam secara kaffah yang berdasarkan pedoman Al-Quran dan Al-Hadits” dalam rangka mengejawantahkan / mempraktekkan beriman (percaya) kepada Allah, beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, beriman kepada kitab-kitab-Nya, beriman kepada hari akhir, dan beriman kepada adanya takdir baik dan buruk ” di atas.

 لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِأَرْبَعٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ 

بَعَثَنِي بِالْحَقِّ وَيُؤْمِنُ بِالْمَوْتِ وَبِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَيُؤْمِنُ بِالْقَدَرِ  رواه الترمذى   

” Seorang hamba, tidak dikatakan beriman hingga ia beriman dengan 4 perkara, yakni persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya saya (Nabi Muhammad) adalah utusan Allah dimana Allah mengutusku dengan benar, dan beriman dengan kematian, dan beriman dengan dibangkitkan setelah kematian dan beriman dengan takdir “

Mengapa Keimanan (dalam hal ini : “hidayah dari Allah”) Perlu Diikat?

Keimanan / hidayah pemberian dari Allah memang perlu di jaga/ dipelihara agar tidak terlepas dari diri kita. Ibarat kita mengikat ternak peliharaan kita, bila kita ikat dengan kuat, walaupun ada hujan disertai petir, ia akan terikat kuat tidak akan lari kemana-mana.

Demikian pula keimanan / hidayah, bila tanpa tali pengikat iman maka akan mudah lepas.

Inilah alasan kenapa Hidayah dari Allah mudah lepas dan perlu pengikat keimanan :

1. Keimanan Kadang Naik, Kadang Turun.

وَأَنَّ الْإيْمَانَ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ . رواه مسلم

Artinya : “Dan sesungguhnya iman / keimanan (terkadang) naik dan (terkadang) turun.”

Kalau keimanan kita sedang naik, biasanya ditengarai dengan kesemangatan dalam ibadah dan beramal shalih. Tapi, kalau sedang turun, muncul rasa hoream (malas/ kurang semangat), loyo, mengikuti hawa nafsu, meremehkan dosa dan sebagainya.

2. Hati manusia dibolak-balikkan oleh Allah,

Inilah mengapa Rasulullah sering melafalkan/ membaca doa berikut ini :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ 

 Yaa Muqollibal Quluub, Tsabbit Qolbi ‘Alaa Diinika.

Artinya : Wahai (Alloh) Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.

Jadi memang, hati manusia itu dibolak-balikkan oleh Allah. Akhirnya seperti yang disebutkan di point 1 di atas, keimanan terkadang naik, terkadang turun.

3. Keimanan Mudah Terlepas, ( diibaratkan hati manusia itu di apit diantara dua jariNya Allah, artinya mudah terlepas )

إِنَّهُ لَيْسَ اٰدَمِيُّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ اُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

رواه الترمذى

” Sesungguhnya tidak ada anak turun Nabi Adam, kecuali hatinya diantara dua jari jemari Allah, maka barangsiapa yang Allah kehendaki maka Allah akan menjaganya (keimanan orang tersebut dijaga oleh Allah), dan barang siapa yang Allah kehendaki maka Allah akan menyimpangkannya (keimanannya terlepas)”.

Redaksi Hadits Lengkapnya adalah sebagai berikut (dikutip dari HR. At-Tirmidzi)  :

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ وَأُمِّ سَلَمَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَعَائِشَةَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَهَكَذَا رَوَى غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أَنَسٍ وَرَوَى بَعْضُهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَدِيثُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ أَنَسٍ أَصَحُّ

Telah menceritakan kepada kami Hannad; telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Anas dia berkata; adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa membaca do’a “YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIKA (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu).” Kemudian aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang Anda bawa. Lalu apakah Anda masih khawatir kepada kami?” beliau menjawab: “Ya, karena sesungguhnya hati anak turun Nabi Adam (manusia) berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya.” Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari An Nawwas bin Sam’an, Ummu Salamah, Abdullah bin Amr dan A’isyah. Dan ini adalah hadits Hasan, demikianlah kebanyakan telah meriwayatkannya dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Anas, dan sebagian yang lainnya telah meriwayatkannya dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun hadits Abu Sufyan dari Anas lebih shahih. (HR. At Tirmidzi No.2066)

Hadits Imam At Tirmidzi Nomor 3444

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ عَنْ أَبِي كَعْبٍ صَاحِبِ الْحَرِيرِ حَدَّثَنِي شَهْرُ بْنُ حَوْشَبٍ قَالَ قُلْتُ لِأُمِّ سَلَمَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ فَتَلَا مُعَاذٌ { رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا } وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ وَالنَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ وَأَنَسٍ وَجَابِرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَنُعَيْمِ بْنِ هَمَّارٍ قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

Artinya : ” Telah menceritakan kepada kami (Abu Musa Al Anshari), telah menceritakan kepada kami (Mu’adz bin Mu’adz), dari (Abu Ka’b) pemilik sutera, ia telah menceritakan kepadaku (Syahr bin Hausyab) ia berkata: aku bertanya kepada Ummu Salamah, “wahai Ummal mukminin, apakah doa yang sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam, ketika ada disisimu? Ummu Salamah berkata : doa beliau yang paling sering dibaca adalah: “Yaa Muqallibal Quuluub, Tsabbit Qalbii ‘Alaa Diinika” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu). Ummu Salamah berkata, maka saya bertanya kepada Rasulullah, ” wahai Rasulullah, betapa sering anda berdoa: “Yaa Muqallibal Quuluub, Tsabbit Qalbii ‘Alaa Diinika”. Rasulullah menjawab : “Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun melainkan hatinya berada diantara dua jari diantara jari-jari Allah, barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan meluruskannya dan barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan membelokkannya.” Kemudian Mu’adz membaca ayat: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” 

Dan dalam bab tersebut terdapat riwayat dari Aisyah serta An Nawwas bin Sam’an serta Anas, Jabir, Abdullah bin ‘Amr dan Nu’aim bin Hammam. Abu Isa (Imam Tirmidzi) berkata:  hadits ini adalah hadits hasan. (HR. At Tirmidzi No.3444)

 إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Bahwasanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

4. Allah akan Menguji Keimanan Seseorang.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ 

اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya : ” Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) setelah mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan niscaya sungguh Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar/ jujur dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (QS Al-Ankabut [29]: 2-3). 

 Ayat senada : Ali Imran [3]: 142, al-Baqarah [2]: 214.

Dengan “ujian keimanan” dari Allah ini, tentu kalau tidak memiliki iman yang kuat (tidak mengikat keimanannya dengan tali pengikat), maka hidayah (petunjuk) dari Allah, akan mudah terlepas.

Mengikat Keimanan / hidayah dengan 4 Tali Keimanan :

iman, keimanan, hidayah, 4 tali keimanan
Yang dimaksud 4 (empat) tali keimanan agar hidayah tidak mudah lepas yakni : 
 

1. Bersyukur 
2. Mengagungkan 
3. Mempersungguh 
4. Berdoa 

Penjelasan Empat Tali Keimanan adalah sebagai berikut :
1. Bersyukur 

Yang dimaksud syukur disini adalah mensyukuri (berterima kasih) atas pemberian dari Alloh yang berupa hidayah bisa menetapi agama yang berdasarkan pedoman AlQuran dan Al Hadits. 

Hidayah dari Allah ini harus kita syukuri dan terus kita jaga, supaya keimanan tetap mantap di dalam diri kita sampai akhir hayat kita nanti dalam keadaan khusnul khotimah.

Kalau kita bersyukur  maka keimanan kita akan ditambah oleh Allah, kefahaman kita akan ditambah oleh Allah, ketaqwaan kita semakin ditambah oleh Allah.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ * سورة ابراهيم 7 

“Niscaya jika kalian bersyukur maka akan Aku tambah, (sebaliknya) kalau kalian kufur (tidak bersyukur) ingatlah bahwa siksa-Ku sangat pedih”

اِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلاَ يَرْضَى لِعِبَادِهِ اْلكُفْرِ وَاِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُُمْ … الأية الزمر 7 
مَا يَفْعَلُ اللهَ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَءَامَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا * سورة النساء 147 

Bersyukur haruslah secara ucapan maupun dengan perbuatan (qoulun wa fi’lun).

Adapun syukur dengan ucapan adalah menyebutkan kalimat : الحمد لله , alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, alhamdulillah jazaahumulloohu khoiro, alhamdulillah jazaakumulloohu khoiro, dst.

Sedangkan bersyukur secara perbuatan seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dengan contoh konkrit walaupun Rasulullah sudah dijamin surganya dan diampuni dosa-dosanya, tapi sebagai praktek bersyukur kepada Allah beliau mempersungguh dalam ibadahnya, termasuk beliau mempersungguh shalat malam sampai kedua tumit dan telapak kakinya pecah-pecah dan bengkak-bengkak karena lamanya berdiri, padahal beliau telah dijamin :
لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا

” Allah telah mengampuni kepadamu (Muhammad) atas dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akhir/ akan datang, dan Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan menunjukkan kepadamu ke jalan yang lurus “

ketika ditanyai oleh Aisyah kenapa harus beribadah pol-polan termasuk sampai bengkak-bengkak kakinya beliau menjawab : 

 
اَفَلاَ اَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا. رواه البخارى 
 
Artinya : bukankah aku ini hamba yang bersyukur. 

2. Mengagungkan 

Yang dimaksud mengagungkan disini adalah mengagungkan hidayah Alloh, lebih mencintai Allah Rasul. Sabda Rasulullah SAW 

عَنْ اَنَسِ بْنُ مَالَكٍ قاَلَ قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُونَ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ ، وَوَالَدِهِ ، وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ * رواه مسلم فى كتاب الإيمان 

 

Artinya : kalian tidak dikatakan iman sehingga kalian lebih mencintai aku Nabi mengalahkan mencintai anak, orang tua, dan semua manusia . 

Adapun praktek mengagungkan tersebut adalah mengerjakan perintah Alloh, menjauhi larangan agama dengan hati ridlo, sakdermo, senang, longgar, merasa ringan/ tidak merasa berat dan tetap karena Alloh. 

Mengagungkan syairulloh (tanda-tanda kebesaran Allah) seperti Kitab Allah (Al Quran) dan hadits : 

diagungkan hukum-hukum/peraturan-peraturan yang ada dalam Qur’an Hadits, termasuk juga mengagungkan mushafnya/ kitabnya, supaya di pelihara dengan baik, diberi sampul yang baik, ditempatkan ditempat layak.

Mengagungkan sya’irulloh yang berupa masjid dan tempat-tempat ibadah, dijaga kebersihan, kerapian dan kesuciannya, dan selalu digunakan untuk beribadah seperti : sholat berjama’ah, membaca Al qur’an, untuk iktikaf dll.

Mengagungkan syairulloh berupa para guru, orang tua, mubaligh-mubalighot dan orang-orang yang berhak dihormati/ takdzimi. 

وَمَنْ يُعَظِّمْ شعائر الله فإنها من تقوى القلوب * سورة الحج 32 
 

Artinya: barangsiapa yang mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah maka itu tanda taqwanya hati

3. Mempersungguh 

 Yang dimaksud mempersungguh adalah memerlu-merlukan, menyempat-nyempatkan beribadah sampai berhasil terlaksana. 

يَابْنَ اَدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي اَمْلأْ صَدْرَكَ غِنَى وَاَسَدَّ فَقْرَكَ وَاِنْ لمَ ْتَفْعَلْ مَلأْتُ صَدْرَكَ شُغْلاً وَلَمْ اَسُدَّ فَقْرَكَ * رواه ابن ماجه 
 

Artinya : Wahai anak Adam sempatkanlah (perlukanlah) ibadah kepadaku (Allah) maka aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku akan menutup kefakiranmu, dan kalau kamu tidak mengerjakannya maka Aku (Allah) akan memenuhi hatimu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu. 

 

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْناَ لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا * سورة العنكبوت 69 
 

Artinya : dan barang siapa yg mempersungguh di jalan-Ku (Allah) niscaya akan Aku tunjukkan jalannya. 

4. Berdo’a 

Berdo’a yakni usaha bathin kita dengan cara memohon kepada Allah agar kita ditetapkan dalam keimanan, diantaranya : 

يَا مُقَلِّبَ اْلقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ . رواه الترمذى 
 
”  Yaa Allah,  Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati saya pada agama-Mu “
 

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْناَ عَلىَ اْلقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ * سورة البقرة 250 

 ” Yaa Tuhan kami tuangkanlah kepada kami keshobaran, dan tetapkanlah telapak kaki kami (hidayah/ keimanan), dan tolonglah kami mengalahkan orang-orang yang tidak beriman “

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami janganlah Engkau memalingkan / menyimpangkan hati kami setelahnya Engkau menunjukkan (memberi hidayah) pada kami dan berikanlah kami rohmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”

Semuanya harus diniati karena-Allah, hanya berharap ridha Allah semata dan agar terjaga dari siksa Allah SWT.

 باب الدليل على زيادة الإيمان ونقصانه 4681 حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ شَابُورَ عَنْ يَحْيَى بْنِ الْحَارِثِ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ  

Nabi bersabda : “Barang siapa yang mencintai/senangnya (kepada sesuatu) karena-Allah (dilandasi dengan karena-Alloh), dan marahnya (pada sesuatu) juga karena-Alloh, dan memberinya pada sesuatu karena- Alloh (tidak pamer), dan mencegahnya (pada sesuatu larangan) karena-Alloh , Maka sungguh-sungguh dia telah menyempurnakan pada keimanannya”. (HR.Sunan Abu Dawud No. 4681

Manisnya Keimanan
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانَ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِـمَّا سِوَاهُـمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُــحِبُّهُ إِلَّا لِلّٰهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِـى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـى النَّارِ     رواه البخارى

” Ada 3 hal yang membuat seseorang akan menjumpai manisnya keimanan, yakni bahwa ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dibandingkan selain Allah dan Rasul, dan bahwa senangnya dan bencinya (pada sesuatu) dilandasi karena-Allah, dan bahwa ia benci kembali kepada kekufuran karena benci akan dibuang ke neraka. “ 

Semoga kita dapat meraih manisnya keimanan dan menjaga keimanan (hidayah) yang telah Allah berikan kepada kita dan kita jaga, kita ikat dengan 4 tali keimanan.

Semoga bermanfaat…

6 thoughts on “4 Tali Keimanan Agar Hidayah Tidak Bablas

    1. Jo Phi

      Silahkan dengan senang hati…semoga Alloh SWT memberi kefahaman, manfaat dan barokah…aamiin

      Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *