Menabung Yuk! Kerja Keras, Tirakat Banter, InsyaAllah Sugih!

By | Maret 31, 2016

Dalam tulisan kali ini, akan membahas ajakan tentang gerakan “menabung” sebagai persiapan kita di masa depan.

Umumnya manusia akan melewati beberapa fase kehidupan, maunya kita tentu : “kecil suka ria, muda kaya raya, dewasa bahagia, mati masuk surga.”

Boleh dong kita punya planning seperti di bawah ini, bila mana Allah SWT mengqodarkan umur panjang dan rezeqi yang lancar :

  • Umur 1-10 tahun merupakan fase dasar, mulai belajar hal-hal dasar termasuk membaca dan menulis.
  • Umur 11-20 mulai beranjak menuju kedewasaan.
  • Umur 21-30  memantapkan pendidikannya.
  • Umur 30-40 mulai bekerja dan hasilnya sebagian ditabung.
  • Umur 40-50 tahun, kerja giat dan hasilnya sebagian ditabung.
  • Umur 50 tahun ke atas tinggal ibadah dan tabungannya sudah banyak berupa tanah produktif yang menghasilkan, passive income, dsb .

Kita khususnya para suami, sebagai manusia punya kewajiban yang sama terhadap keluarga, istri dan anak-anak kita termasuk terhadap diri kita masing-masing.

Tak dipungkiri, kita ini sekarang hidup di akhir zaman yang tentunya mau tidak mau harus punya modal untuk menguatkan dirinya di dalam menetapi dunia dan agamanya.

Pada akhir zaman kelak manusia harus menyiapkan dirham dan dinar untuk menegakkan agama dan dunianya (HR Thabrani)

Ketika berada di akhir zaman, tidak boleh tidak, umat manusia harus memiliki dinar dan dirham, maksudnya harus punya uang, digunakan untuk memperkuat agama dan dunianya.

Dunianya ya untuk sangu (bekal) ibadahnya, dunianya ya untuk diri dan keluarganya, karena manusia ini masih banyak kebutuhan.

Kesehatan ya ada biayanya, pendidikan ya ada biayanya, ingin punya rumah, punya kendaraan, itu juga membutuhkan biaya, shilaturohim juga membutuhkan biaya.

Untuk mendukung itu semua, diharapkan kita semua memiliki tabungan yakni dengan cara mujhid muzhid (kerja keras – tirakat banter), istilahnya “kerja mempeng, tirakat banter, doa tak ketinggalan, insyaAllah mesti sugih!”

Memenej pendapatan dan pengeluaran. Apalagi manusia itu tidak akan muda terus, manusia ini akan tua. Perlu sangu / bekal, untuk pendidikan dan menikahkan anaknya perlu biaya, untuk dirinya : membutuhkan obat, kendaraan, dsb semuanya perlu biaya.

Maka kita perlu mengumpulkan sedikit demi sedikit apa yang kita kerjakan, apa yang kita usahakan, dengan harapan tabungan ini bisa berharga atau membantu diri kita di lain kesempatan.

Penghidupan di dunia ini akan naik turun, roda kehidupan selalu berputar, kadang kita ada di atas (sedang ber-jaye, bukan sedang jadi cicak ada di langit-langit..hehe), kadang di bawah, tidak selamanya usaha kita berjalan lancar.

Oleh karena itu, ketika kita berada di atas, kita usahakan memiliki tabungan yang cukup, tidak isrof (berlebih-lebihan). Tidak mumpung di atas, kita keluarkan yang banyak, menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak ada manfaatnya, karena sekarang ini peluang untuk menghamburkan uang, peluangnya banyak sekali, kesempatannya ada di kita dikelilingi hal-hal yg demikian. Ingin makan enak, ingin kendaraan nyaman dan mewah, ingin berobat yang mahal, berhubung duitnya ada, mungkin bisa dipenuhi.

Tetapi, pada suatu saat, mungkin kita tidak memiliki seperti itu, ingin naik kendaraan enak, mau berobat yang mahal, mau makan yg enak, bisanya hanya melihat.

Maka mari kita belajar dari diri kita, keluarga kita, bagaimana kita mendidik diri kita & keluarga kita supaya bisa mujhid muzhid. Karena dengan mujhid muzhid kita akan ditunjukkan indahnya menetapi hidup ini.

Tetapi kalau kita tidak bisa menjaga dirinya, hanya sebatas menghambur-hamburkan uang, maka selesai sebatas itu saja. Maka, supaya manfaat harta kita, kita supaya mempunyai bekal tabungan termasuk tabungan persiapan setelah mati yaitu amal jariyah.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ:
مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Ketika manusia meninggal maka putuslah semua amalannya, kecuali 3 hal perkara : yakni shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya”

Shodaqoh jariyah adalah shodaqoh “yang mengalir” (pahalanya terus mengalir kepada kita walaupun kita sudah meninggal) yaitu shodaqoh untuk kepentingan fasilitas, sarana dan prasarana sabilillah misal untuk membangun masjid, mushola, tempat pengajian, dsb yang selama sarana-prasarana tersebut dimanfaatkan umat untuk beribadah, maka pahalanya terus mengalir walaupun kita sudah tiada.

Ilmu yang bermanfaat yakni ilmu yang menjadi manfaat bagi orang lain yang mengerjakannya dan kita yang mengajarkan ilmu tersebut juga kebagian pahalanya. Misalkan kita mengajarkan ilmu tentang shalat tasbih, kemudian diamalkan oleh yang kita ajar, selama ia (yang kita ajari) mengerjakan shalat tasbih, maka kita akan kebagian pahala walaupun kita sudah meninggal.

Anak yang shalih selalu mendoakan orang tuanya, memintakan ampun kepada Allah agar orang tuanya mendapatkan pengampunan. Doa anak shalih akan terus nyambung untuk orang tuanya.

Urusan shodaqoh jariyah secara umum yang punya harta, yang bisa. Urusan ilmu ya kebanyakan para ulama yang bisa, tapi kalau anak, hampir semua dari kita memiliki anak/ keturunan.

Lewat anak inilah sumber jariyah kita. Anak kita, kita didik, kita arahkan, kita ramut, kita bina, diberi pelajaran membaca dan menulis, diberikan pelajaran ilmu : sholat, doa, ilmu Quran Hadits, ditanamkan 4 Thobiat luhur (rukun-kompak-kerjasama yang baik, mujhidul muzhid), 4 tali keimanan (bersyukur, berdoa, mengagungkan, mempersungguh) minimal anak kita bisa mendoakan kepada kita. Kalau diamalkan oleh anak kita, jadi jariyah bagi kita semua.

Termasuk bapak-bapak yang di dapuk jadi para pengurus umat, dengan andilnya, meramut, menggerakkan kelancaran semua kegiatan generasi penerus, tentu akan kebagian dapat jariyahnya.

Yuk kita menabung baik tabungan berupa harta dunia dengan menyisihkan sebagian pendapatan kita untuk persiapan di masa depan, terlebih lagi tabungan investasi akhirat yakni amal jariyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *