Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Inspirasi Buat Para Lelaki/ Suami, "Semua Tentang Wanita"


Artikel "Semua Tentang Wanita" ini hanyalah sebagian kecil kisah keseharian seorang wanita (baca: seorang istri) yang menunjukkan betapa berharganya seorang istri. Semoga menjadi inspirasi bagi para lelaki / suami. Tentu saja, suami-istri mempunyai peran masing-masing dalam membangun rumah tangga ke arah sakinah, mawaddah, warahmah. Tulisan kali ini membahas tentang peran seorang istri.

Istri saya TIDAK BEKERJA !!!

Percakapan antara Suami ( S ) dan Psikolog ( P )

🔸P : Apa yang anda lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup Pak?

🔹S : Saya bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan swasta


🔸P : Istrimu ?

🔹S : Tidak bekerja hanya seorang ibu rumah tangga


tentang wanita

image credit : pixabay.com
🔸P : Siapa yang membuat sarapan untuk keluargamu di pagi hari?

S : istri saya sebab dia tidak bekerja


P : Jam berapa dia bangun untuk menyiapkan sarapan ?

S : Jam 5 karena dia membersihkan rumah dulu sebelumnya


🔸P : Bagaimana anakmu berangkat sekolah?

🔹S : Istri saya yang antar anak-anak karena dia tidak bekerja


🔸P : Setelah mengantar anak apa yang dia lakukan?

S : ke pasar lalu pulang kerumah masak dan mencuci pakaian, karena yah anda tau kan dia tidak bekerja


🔸P : Sore hari sepulang kerja apa yang anda lakukan?

S : saya istirahat. Lelah karena mengerjakan tugas saya seharian di kantor


🔸P : Terus istrimu ngapain donk?

S : dia menyiapkan makan, nyuapin anak-anak, nyiapin makan saya, nyuci piring, membersihkan rumah, mengantar anak-anak tidur


💯✔Menurut anda siapa yang paling banyak melakukan aktifitas ??


Rutinitas harian istrimu berlangsung dari pagi hingga larut malam. Apakah itu yang disebut TIDAK BEKERJA?


Ya, menjadi seorang ibu rumah tangga tidak membutuhkan sertifikat dan posisi tinggi tapi PENTING SEKALI PERANNYA


Hargai istrimu karena pengorbanan mereka tidak nyaman.

Ini seharusnya menjadi pengingat dan refleksi untuk kita semua utk mengerti dan menghargai setiap peran.

Semua tentang WANITA....

Ketika dia terdiam berjuta ide bergulir dalam pikirannya


Ketika dia menatapmu, dia berpikir kenapa dia sangat mencintaimu bukannya merasa dimanfaatkan.


Ketika dia berkata dia akan bertahan untukmu dia bertahan sekuat batu


Jangan sakiti dia atau salah memahami atau memanfaatkannya


↪Forward kepada semua wanita utk membuat mereka tersenyum dan utk semua pria supaya mereka sadar betapa berharganya wanita...


Peran Keluarga dalam Pembentukan Karakter Anak

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi seorang anak. Peranan keluarga memiliki potensi yang sangat besar bagi tumbuh kembang anak sejak usia dini, dimana anak diibaratkan bagai kertas putih yang polos, dan bersih, belum memiliki bentuk jiwa yang tetap, sehingga faktor keluargalah sebagai faktor pengaruh yang pertama yang akan turut membentuk karakter seorang anak. 

Pendidikan anak usia dini harus dilakukan secara holistik (menyeluruh), dimana stimulasi dini yang diberikan keluarga terhadap anak dapat mempercepat perkembangannya.

keluarga, family
Pengembangan dan pendidikan anak sejak usia dini merupakan investasi yang strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 

Keluarga berpotensi untuk mengembangkan karakter anak melalui ikatan emosi yang kuat antara orang tua dan anak. Pola pengasuhan dan prinsip-prinsip pengasuhan orang tua terhadap anak, seperti prinsip keteladanan diri, kebersamaan merealisasikan nilai-nilai moral, sikap demokratis dan terbuka, dan kemampuan menghayati kehidupan, menentukan apresiasi anak terhadap nilai-nilai disiplin diri yang ditanamkan. 

Nilai-nilai disiplin ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosi yang merupakan bagian dari pembentukan karakter anak yang utuh menyeluruh (whole person) cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran emosional dan spiritual, bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (the person within a whole). 

Berdasarkan penelitian, kecerdasan emosi (EQ/Emotional Quotient), berperan sekitar 80 persen terhadap keberhasilan seseorang hidup di masyarakat, dan hanya 20 persen bagian lainnya ditentukan oleh faktor lain, termasuk faktor kecerdasan (IQ/Intellegence Quotient).

Pendidikan anak pada usia dini, memiliki potensi yang cukup besar. Anak pada usia dibawah 7 tahun, mengalami perkembangan otak sebesar 90 persen. Dimana pada tiga tahun pertama, terbangun fondasi struktur otak yang berdampak permanen. 

Jika terjadi pendidikan yang salah pada masa perkembangan ini, dapat menurunkan kreativitas anak hingga turun 90 persen, dan kelak pada usia 40 tahun, kreativitasnya bisa hanya tinggal 2 persen. 

Pendidikan karakter anak pada usia dini, sejatinya dilakukan oleh lingkungan keluarga, yang mengacu pada 9 pilar karakter, yaitu :
  1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya
  2. Kemandirian, disiplin, dan tanggungjawab,
  3. Kejujuran/amanah dan diplomatis,
  4. Hormat dan santun,
  5. Dermawan, suka menolong dan kerjasama,
  6. Percaya diri, kreatif dan pantang menyerah,
  7. Keadilan dan kepemimpinan,
  8. Baik dan rendah hati
  9. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Upaya pembentukan karakter yang kuat tersebut, tentulah tidak dapat dilakukan secara instan, namun memerlukan usaha yang terus menerus berkesinambungan, dan pihak keluargalah yang memiliki potensi besar dalam pembentukan karakter-karakter tersebut, karena pihak sekolah memiliki keterbatasan ruang dan waktu dalam pembentukan karakter-karakter di atas.

Terkadang karena berbagai faktor yang menjadi alasan, orang tua menyerahkan pendidikan anak-anaknya pada beberapa lembaga sekolah berlabel plus dengan harapan si anak mendapatkan tambahan ‘plus’ dari sekolah tersebut. 

Hanya saja terkadang karena kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak, serta antara orang tua dan pihak sekolah, terjadi kontra pendidikan antara rumah dan sekolah, sehingga nilai ‘plus’ yang diharapkan tersebut tidak diperoleh di rumah, namun justru tertinggal di sekolah. Oleh karena itu, dalam tujuan membentuk karakter anak yang holistik, sangat perlu diperhatikan perilaku pola/prinsip pengasuhan orang tua/lingkungan keluarga terhadap anak. 

Jika menerapkan pendidikan yang salah, itu sama saja dengan membunuh karakter anak tersebut.
Orang tua perlu mencari benang merah dan sinkronisasi beberapa hal yang utama, yang membantu anak mengembangkan hal-hal dasar dalam kepribadiannya. 

Sebagaimana orang tua memilih sekolah yang sesuai dengan orientasi nilai dan harapan mereka, begitu pula orang tua sejatinya mengadaptasikan pola-pola pendidikan yang konstruktif dan positif dari sekolah. Saling mengisi, bukan saling meniadakan. 

Komunikasi antara orang tua dan anak serta komunikasi anatara orang tua dan pihak sekolah menjadi hal penting untuk dilakukan. Karena, ketika terjadi “sesuatu” pada anak, kita tidak dapat semata-mata menunjuk pihak sekolah sebagai penyebabnya. Bisa saja persoalan memang terjadi di sekolah, namun kita harus melihatnya secara bijaksana, karena reaksi seorang anak terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dilaluinya, dan pola asuhlah yang paling mendominasi bentukan sikap dan kepribadiannya. 

Jadi, perlu disadari betul bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi pendidikan dan perkembangan karakter anak. Sekolah pada dasarnya hanya mengarahkan, memberikan bimbingan dan kerangka bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan berkembang. Keluargalah pusat dari segala pusat pembelajaran.

Mamih, Menantumu Nggak Bisa Memasak!

Tips untuk Calon Menantu dan Mertua.

Kondisi ini kerap terjadi dalam sebuah pernikahan. Kadang-kadang bapak atau ibu mertua berharap punya menantu yang pinter masak, eh ternyata sang menantu belum bisa memasak...bisa sih masak tapi masak indomie doang..gilirannya masak nasi malah lembek atau nggak mateng, masak tahu keasinan, masak air gosong! Anda bayangkan, masak air, Gosong! hah apa ada ya masak air gosong? hehe...

Terkadang ada lho mertua perfectionist yang pasang aturan harus punya menantu pintar masak (selain harus cantik, pinter merias diri, cerdas juga harus jago masak..waduh berat amat ya persyaratannya), sehingga begitu tahu menantunya tidak sesuai harapan, timbullah permasalahan yang tidak dapat dianggap sepele. Apalagi pernikahan yang tidak didahului pacaran seperti rata-rata kita warga pengajian. yang ada, banyaknya, cinta lokasi (cilok), melamar,diterima,nikah deh.

persiapan menjadi menantu yang baik disayang mertua

Oleh karena itu adik-adik remaja putri mumpung masih banyak kesempatan paksakanlah untuk belajar hal-hal tadi, banyak lho sarananya...misal dalam acara pengajian muda/i suka ada khan acara belajar memasak/kuliner dan merias/make up. IngsyaAlloh Minggu (7 April 2013) adik-adik keputrian remaja Nurul Hakim mau mengadakan acara teknik make up....

Para pengurus remaja/muda-mudi khususnya di seksi keputrian berilah sarana buat temen-temennya biar jadi jago masak dan merias diri, jadi tidak melulu ngaji acaranya. Selain lebih mengakrabkan dan menggambuhkan juga meningkatkan keterampilan persiapan siapa tahu segera ada yang melamar atau diambil menantu, khan sudah ready..hehe.

Urusan rias merias juga penting lho, bukankah salah satu tanda istri yang sholihat adalah menyenangkan ketika dipandang oleh suaminya (selain yang utama menyenangkan suaminya karena kelakuan baiknya)

Buat para orang tua, jangan terlalu berat lah persyaratanya, turunkan sedikit "view" nya, toh nanti justru menjadi lapangan amal sholih mengajari sang menantu sambil biar lebih akrab dan saling menyayangi. Banyak kok yang awalnya sang menantu tidak bisa masak, setelah diajari menjadi jago masak dan menjadi andalan keluarga.