Kisah Emak yang satu ini, bukan sekedar “From Zero to Hero”.

By | Januari 2, 2017

Kalau “From Zero to Hero” sih biasa, tapi kalau “from Minus to Hero“, itu baru luar biasa.

Kisah inspiratif ini, penulis dapatkan di blog emakpintar.asia sebuah blog berisi forum berbagi dan edukasi antar emak-emak. Tak dipungkiri ternyata emak-emak juga banyak yang menjadi bagian dari pejuang keluarga.

Banyak lho emak-emak yang pintar mencari uang dan menjadi pejuang keluarga. Mungkin Anda, pembaca blog ini, salah satu emak yang pintar cari uang ! Pintar cari uang ini, maksudnya turut membantu suaminya/ keluarganya mencari nafkah untuk keluarganya. Bukan sekedar “pintar mencari uang suami”, dimana pun suaminya menyimpan uangnya, di selipkan di dompet, disembunyikan di laci, di lemari, di bawah bantal, di rekening, di tempat manapun pasti ketemu…maksudnya bukan pintar mencari uang yang disembunyikan suaminya…hehe….just kidding, please!

Membaca kisah perjuangan emak yang satu ini memang patut diacungi jempol. Kisah perjuangan hidup, kesabaran, tak pantang menyerah, senantiasa belajar dan tawakkal kepada Allah SWT.

Yuk kita ikuti kisahnya !

Emakpintar.asia

“Pernah Bangkrut , Kini Dinii Fitriyah Berbisnis Tanpa Hutang Hingga Punya 300 Agen”

Pernah punya bisnis komputer yang sudah berbentuk CV, ada 3 toko, omset mencapai 600-700 juta/bulan, dan sudah bisa membeli tanah, tapi berujung bangkrut. Hal tersebut justru tidak membuat Dinii Fitriyah trauma berbisnis. Ia pun berbagi cerita bagaimana bangkit dan kini memiliki usaha baru yang berhasil menggandeng 300 agen.

Bisnis Komputer Bangkrut dan Aset Hilang

Emak hero dari tiga anak ini memilih berbisnis karena tidak ada pilihan lain. Saat itu, ijazah miliknya dan suami hilang terbawa banjir. Apalagi ia memang sudah berbisnis sejak masih kuliah. Antara lain konter HP, toko foto copy dan ATK, antar jemput anak sekolah, rental mobil, pecel lele, dan toko komputer. Dan semua bisnis tersebut sudah kolaps.

Emak kelahiran Palembang ini memang pernah memiliki bisnis komputer yang berkembang pesat. Tapi karena ingin nambah modal, ia mengajukan pinjaman ke bank. Sayangnya, di tahun keempat, cicilan macet dan musibah datang beruntun. Mulai mengalami pendarahan saat hamil anak ketiga, suami tabrakan di Semarang, sehingga hampir dua bulan konsentrasi menyelesaikan masalah tersebut. Ditambah dengan karyawan yang tidak amanah, sekaligus dollar yang terus naik tajam, hingga musibah banjir yang datang tanpa diduga. Akhir tahun 2014, usahanya tutup dan semua aset serta  hartanya melayang.

Pada Oktober 2014, Emak 35 tahun ini seolah kembali ke titik minus. Ia beserta suami dan anak-anaknya pergi meninggalkan rumah yang sudah dicap “Rumah ini akan segera dilelang”. Lalu mengungsi ke kamar kos ukuran 2,5×3 sehingga sekamar berlima dan tidur beralaskan karpet. Belum lagi setumpuk utang yang hingga kini masih dicicil. Sejak saat itu, ia membatasi jatah makanan anak-anak, pindah ke sekolah negeri agar gratis, dan menitipkan si bungsu kepada adiknya karena tidak mampu membeli susu dan diapers.

Mulai Berbisnis dari Nol Lagi

Ibu rumah tangga yang satu ini pun berjuang mati-matian agar dapat bertahan hidup. “Saya berjualan aksesori di alun-alun setiap minggu pagi, belanja barang ke Jakarta naik bis berangkat subuh dan pulang subuh, akrab dengan terminal, akrab dengan Cikampek di larut malam, tidur di stasiun Senen sudah biasa, nongkrong di Palimanan nunggu elf jam 3 pagi sudah rutin saya lakukan, makan sehari sekali juga Alhamdulillah,” kenangnya.

Satu hal disadari Emak dari Andiennayla Alfakhira ini, agar bisa melesatkan bisnis lagi, yaitu terus belajar dari kesalahan-kesalahan di masa lalu. Januari 2016, ia dan keluarga  hijrah total ke Bandung. Tidak hanya pindah tempat tinggal, tapi “hijrah” secara keseluruhan termasuk penampilannya. Ia mengontrak rumah kecil di Bandung dengan biaya 1 juta/bulan. Di kota kembang tersebut, ia mencari ide dan inspirasi ke berbagai tempat, mengikuti pelatihan gratis, sampai akhirnya bertemu dengan komunitas Tangan Di Atas (TDA).

Di komunitas tersebut, Emak yang ulang tahun setiap tanggal 6 Agustus ini, mencari banyak ilmu hingga tercetus berbisnis baju muslim. Dengan ditemani sahabat sesama anggota TDA, ia belajar mengenal kain, proses produksi hingga bisa dijual. Ia menambahkan, “Saya juga belajar mengenai bisnis online dengan banyak pakar. Saya praktekan satu-satu semua ilmu itu meskipun dengan apa adanya. Selain itu, saya juga belajar dengan Indari Mastuti.”

“Melahirkan” Brand Mouza

Pada 1 Februari 2016 lalu, Brand Mouza untuk pertama kali melakukan launching produknya. Emak dari Deidanish Dzimar ini, memproduksi gamis sekitar 400 pcs. Di hari pertama, sukses terjual 208 pcs. Sebagian keuntungannya masih bisa membuat keluarganya pindah ke rumah kontrakan yang lebih memadai dan lebih nyaman. Saat ini, Mouza sudah menjual ribuan produknya. Selain itu, ada juga khimar, pashmina, outer, kaos kaki, bross, dan masih banyak lagi. Bahkan ketika launching ke 6, Mouza berhasil mencatat penjualan 1000 pcs dalam hari pertama launching. Hingga kini, memiliki agen lebih dari 300 orang. “Mouza terus meningkatkan kapasitas produksinya secara bertahap. Kenapa bertahap? Karena Mouza tidak membesarkan bisnisnya dengan investasi atau pinjaman maupun utang. Maka, 100% memutar uang yang ada, memutar modal pertama dulu yang tak sampai 10 juta. Dan 100% Mouza bisnis dengan uang cash,” tegasnya.

Tips Melesatkan Bisnis ala Dini Fitriyah

Sebelum menutup wawancara, Emak dari Defandry Ermanu ini berbagi tips agar bisa melesatkan bisnis, yaitu:

1.Gunakan waktu sefektif mungkin. Ia bangun lebih pagi, dan tidur lebih malam dari biasanya.

2.Belajar, belajar, belajar dan terus belajar. Tak peduli itu gratisan atau berbayar. Yakin saja jika semua ilmu itu akan bermanfaat, entah untuk dipraktekan atau untuk dibagikan lagi.

3.Mencatat setiap kesalahan yang pernah dilakukan saat bisnis terdahulu. Selalu mengingat agar tidak diulangi.

4.Menemui banyak orang untuk berdiskusi, silaturahim dengan banyak pelaku bisnis untuk sharing, berkonsultasi dengan ahli untuk masalah dalam bisnis.

5.Membeli buku dari yang murah sampai yang mahal untuk belajar.

6.Melakukan marketing langit.

7.Menjadikan orangtua sebagai raja dan ratu, mengistimewakan mereka dalam bagaimanapun keadaannya. Usahakan, ada sedekah rutin setiap bulannya.

8.Jangan terlalu banyak alasan untuk maju, agar Allah juga tak perlu memberi alasan untuk melimpahkan rezeki. Jangan pakai alasan repot punya anak, alasan enggak bisa ini itu, dan alasan lain, tapi move on! Dengan mencari solusi agar bisa maju.

9.Jangan baperan. Mau di-PHP-in, dapat komplain, tidak ada pembeli, atau omset turun, jangan baper. Hadapi dengan biasa saja dan tetap terus istiqomah menjalankan strategi, karena semua butuh proses.

“Yang jelas, hidup itu sulit, maka lakukanlah sesuatu agar menjadi mudah,” pungkasnya.

BIG NO TO RIBA !!!

Ternyata setelah ditelisik lebih lanjut, kisah Dinii Fitriyah ini menceritakan kisah nyata dari orang yang Mencari Jalan Pulang untuk mengharap ridhoan Allah.

Seseorang Yang pernah terjungkir, dan tersungkur kejurang RIBA. Kisah nyata dari DINII FITRIYAH semoga menjadi pelajaran untuk kita semua.
——-
BIG NO TO RIBA!! (juli.2016)

Kemarin siang ketika beres2 toko, tak sengaja menemukan dokumen ini, dokumen yang saya fikir sudah saya buang, ternyata masih ada, usang dan sobek.

Tiba-tiba air mata mengalir deras.. otak saya dipaksa mengingat-ingat lagi kenangan pahit ini. Riba! Yang telah membuat saya hidup tak jelas arah.

Sebegitu terlenanyakah saya dengan riba.. sampai saya terjerat,tersungkur tak berdaya di putaran roda terbawah menghadapi kerasnya hidup jauh dariNya..

Sepertinya, Riba itu mengandung zat adiktif yang membuat pelakunya ketagihan. Ketika itu, apa yang saya inginkan begitu mudah dicapai. Semua sesuai target.

Saya ingin beli tanah, bank memenuhi, belumlah lunas, ditawari kembali untuk biaya bangun, saya terlena, belum lagi modal usaha, kendaraan, semuanya hasil kredit dari bank, kerjasama dengan leasing.

Terngiang banyak orang bilang “Pengusaha ya wajar banyak utang”, atau “Gunakan duit bank kalo mau sukses,” atau “Ngapain pake duit sendiri kalau bank mau ngasih,”. Saya terlena.

Padahal kata2 itu adalah lubang perangkap yang akan menenggelamkan kita pada kegelapan yang paling pekat.

Perusahaan kolaps dengan cara yang tak pernah kami duga. Dengan musibah beruntun yang datang tak henti2. 2014 akhir, 3 ruko yg dijadikan jaminan itu akhirnya ditulis “Bangunan ini akan segera dilelang”.

Karena 3 bulan saya sudah menunggak (pernah direschedule sekali, dan menunggak lagi 1 bulan dan tidak diberi kesempatan lagi) .
Huhhh, berasa lagi degdegannya kalau saya ingat bahwa saya pernah punya cicilan 20jt/bulan (kurleb hampir 4th yang terbayar). waktu itu saya punya penghasilan sekitar 50jt/bulan dr 1 toko, blm 2 toko lainnya, kecil2 tp ya lumayan.

Ya, banknya SYARIAH. katanya SYARIAH. Tapi aturan tetap aturan. Tak ada ampun bagi siapapun, tak sanggup bayar, jual! tak bisa jual, lelang!
Bank itu hanya mau dekat2 kita kalau kita bisa memberikan keuntungan buat mereka, kalau tidak, siap2 aja menghadapi kehancuran.

Saya hanya diberi waktu maksimal 3 bulan untuk menjual ruko seharga 1,5M, di daerah. Tapi, saya tak bisa. Ya sudah pasrah..

Waktu itu tak banyak yang tau kisah ini, pun teman2 terdekat, meskipun saya msh sering update FB. Toh saya ceritapun mungkin tak akan ada yang percaya. Ada yang saya punya janji dan tak bisa ditepatipun akan bilang “ngarang, alibi, cuma alesan, dll”

Tlp tak berhenti berdering, yang nagih dari bank datang hampir tiap hari. Mobilpun diserahkan sama yang biayain alias leasing, tanpa basa basi, setelah disita tak ada konfirmasi apapun, dana lebih, dll (sudah nyicil 1th, kontrak 2th).

Hanya bisa pasrah sampai titik terendah.. Sampai akhirnya harus ngekos, tidur sekamar berlima.. (nulis ini gemeteran sambil nangis), terbayang lagi bagaimana si kakak harus pindah sekolah, harus berhenti semua lesnya, harus menjatah anak2 lauk makan 1500/hari..
Ah gak sanggup ceritain detilnya.

Teman, intinya harta itu titipan. Tak usah dipaksakan jika memang belum mampu beli. jangan percaya omongan “kalo tidak kredit ga akan punya2”.

Allah maha kaya, MAHA KAYA. sekali lagi, MAHA KAYA. “kalo tidak kredit ga akan punya2”, orang yang bilang gitu, dia tidak percaya sama Allah, makanya kalo ga kredit dia ga akan punya2.

Tidak. Saya tidak pernah menyesali semua kehilangan yang pernah saya alami dulu. Bahkan saya mensyukurinya. Dengan begitu Allah ingin saya lebih mendekat padaNya.

Sekarang, saya tidak akan pernah mengulanginya lagi. Gak apa2 sekarang kontrak dulu, kantor di garasi dulu. Kalau kebeli, baru pindah. Kalau masih belum kebeli, ya ngontrak aja lagi. Masih belum kebeli juga, kontrak again.

Gimana kalau ga kebeli2? gak apa2 toh harta mah ga dibawa mati. Kasian dong anak2 kalau kontrak terus? gimana nanti masa depan mereka? ya ga gimana2, da Allah mah maha besar, anak2 sudah punya rezeki masing.
Insyaallah.. bisa.

Margin mirip bunga, beda nama doang.
(yang mau ambil rumah via KPR, Mobil, motor pakai lising coba difikir lagi)

“Tidak ada seorangpun yang melakukan praktek riba kecuali akhir dari urusannya adalah hartanya menjadi sedikit” (HR. Ibnu Majah, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, disahihkan oleh Al-Imam Al-Albani Rohimahullah dalam Shahih Ibnu Majah)

Semoga menjadi perhatian untuk perbankan syariah di Indonesia agar menjadi lebih baik lagi agar tak ada pihak yang terdzolimi.

Alhamdulillah sekarang sudah bisa merangkak bangkit lagi, Allah menggantinya dengan lebih berkah. Sudah bisa beli mobil lagi, beli motor lagi, bisa usaha lagi, meskipun tidak mewah tapi hidup menjadi lebih tenang.
—————-

Kisah Dinii Fitriyah di atas semoga bisa menjadi inspirasi untuk diri kita untuk Kembali ke jalan yang benar.

Semoga kisah nyata perjuangan hidup tak kenal lelah, senantiasa belajar, shabar dan tawakal, dan yang terpenting adalah menjauhi RIBA, semoga bisa menginspirasi kita. The live is must go on ! Never give up ! Jauhi Riba !

Tentunya, di luar sana, maksudnya di dunia yang fana ini, banyak kisah emak-emak lain sebagai pejuang keluarga yang tidak terekspos namun sangat terasa oleh keluarganya, mungkin anda salah satunya.

Salut untuk Anda mak… two tumbs for you all, mak! Salam wanita hero

One thought on “Kisah Emak yang satu ini, bukan sekedar “From Zero to Hero”.

  1. muni munio

    cerita yang memotivasi, keadaan ini sama yang saya alami sekarang..
    berada di titik nol: belum ada pendapatan dengan keadaan sakit (patah kaki) tidak bisa jalan.. istri di rumah dan punya anak 2 (smp)..
    semoga Allah segera memberi petunjuk dan jalan keluar, amin

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *