Ini Bukan Sekedar Jebakan Batman, tapi Tingkat-tingkat Penyesatan yang Dilakukan Iblis !

By | April 18, 2016
Mas bro…masyaAlloh ini bukan sekedar jebakan batman, ternyata buanyak banget perangkap/ jebakan iblis yang ditebarkan untuk mempengaruhi manusia sehingga gagal menjadi penghuni surga Alloh karena terpedaya tipuannya iblis.

Iblis/syetan selalu mengikuti jejak manusia dan dia tidak merasa puas kecuali kalau telah berhasil menyesatkan, merusak dan mengumpulkannya dalam golongannya, sehingga sama menjadi makhluq yang merugi.

Agar tidak terjerumus dalam jebakan-jebakan iblis dan bala tentaranya (pengikutnya) maka kita perlu mengenali tingkat-tingkat penyesatan yang dilakukan iblis.
Inilah tingkatan-tingkatan penyesatan yang dilakukan iblis :
Tingkat pertama (1)
Pertama kali yang dikehendaki iblis dari hamba Alloh adalah bagaimana supaya seseorang itu kafir, musyrik dan memusuhi Alloh dan Rasul-Nya. Jika iblis berhasil maka seseorang tersebut dijadikan tentaranya, laskarnya dan pembantunya dalam menyesatkan manusia.
Tingkat kedua (2)
Usah iblis yang kedua adalah bagaimanan seseorang itu melakukan bid’ah. Bid’ah itu lebih disenangi iblis daripada perbuatan fasiq dan maksiat karena bahayanya langsung pada agama, ibadah, karena tidak ada tuntunan dari Alloh-Rosul.

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٌ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ*  رواه النسائي
” Jauhilah perkara baru (dalam urusan ibadah), karena tiap-tiap perkara baru (dalam ibadah) itu bid’ah dan tiap-tiap bid’ah itu sesat dan tiap-tiap sesat itu di dalam neraka.”
Bid’ah itu menyalahi dakwah (ajakannya) Nbi Muhammad SAW, melakukan bid’ah berarti mengajak menyalahi yang dibawa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, maka bid’ah itu termasuk pintu kekufuran dan pintu kesyirikan.
Tingkat ketiga (3)
Jika iblis gagal menjadikan seseorang menjadi kafir atau musyrik atau ahli bid’ah maka diarahkanlah supaya seseorang itu melakukan dosa-dosa besar. Iblis berusaha sekuat tenaga supaya seseorang yang teguh memegang sunnah itu melakukan dosa besar, kemudian dia menyiarkannya ke hadapan orang banyak supaya orang lain lari darinya, dan iblis juga mempengaruhi supaya pembantu-pembantunya yang terdiri dari manusia ikut menyiarkannya, sehingga akhirnya orang yang melakukan dosa besar itu merasa malu, putus asa, mundur, kemudian mbledong akhirnya murtad dan menjadi pengikut setia iblis. Naudzu billah min dzalik.
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (سورة النور:١٩)

” Sesungguhnya orang-orang yang senang tersiarnya kejelekan di kalangan orang-orang iman, maka bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Alloh mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui”
فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ (94) وَجُنُودُ إِبْلِيسَ أَجْمَعُونَ (95) سورة الشعراء ٩٤-٩٥

” Dimasukkanlah berhala-berhala itu ke neraka jahim, begitu pula mereka yang sesat dan semua tentara-tentara iblis”

Baca juga kisah yang ini :

Kisah Percakapan Iblis dengan Para Nabi

  

Tingkat keempat (4)
Jika iblis tidak mampu mempengaruhi seseorang melakukan dosa besar maka diarahkannya manusia untuk melakukan kecil karena dengan melakukan dosa-dosa kecil itu diharapkan oleh iblis supaya seseorang itu rusak.
 عَنْ سَهْل بْن سَعْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :  إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بَطْنَ وَادٍ فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى جَمَعُوا مَا أَنْضَجُوا بِهِ خُبْزَهُمْ , وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذُ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكُهُ ” أَخْرَجَهُ أَحْمَد بِسَنَدٍ حَسَنٍ

 

“Jauhilah dosa-dosa kecil karena perumpamaan dosa-dosa kecil itu seperti segolongan orang yang turun ke dalam jurang, maka datang ini dengan sepotong kayu dan ini juga datang dengan sepotong kayu sehingga mereka membawa kayu-kayu yang dengannya mereka mematangkan roti mereka, dan sesungguhnya dosa-dosa kecil itu ketika diambil dengan pemiliknya maka ia merusaknya.”
عَنْ أَنَسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ: إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمُوبِقَاتِ ٭ رواه البخري


” Dari Anas berkata : sesungguhnya kalian melakukan amalan-amalan yang lebih kecil daripada rambut dalam pandanganmy, tetapi sesungguhnya kami memandang pada zaman Nabi SAW sebagai penghancur amalan ”  

Tingkat kelima (5)
Jika iblis gagal, tidak mampu mempengaruhi seseorang melakukan dosa-dosa kecil, maka dia mengarahkan seseorang untuk melakukan kesibukan-kesibukan yang tidak mengandung dosa dan tidak mengandung pahala, tapi bisa menyita waktu untuk beribadah seperti begadang sampai larut malam, ngobrol-ngobrol yang tidak bermanfaat, memperbanyak makan minum di luar kebutuhan, memperbanyak menganggurkan diri, memperbanyak tidur dan lain-lain. Padahal seorang mu’min itu mestinya harus meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat.

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْنِيهِ ٭ رواه الترمذي
Sebaik-baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak perlu (tidak manfaat) padanya.”
Tingkat keenam (6)

Jika iblis gagal mempengaruhi seseorang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang muspro (yang tidak mengandung pahala dan dosa), maka dia mengarahkan seseorang untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap utama, baik, banyak manfaatnya. 

Dan mengajak orang lain mengerjakan seperti dia. Terdiri dari pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan, usaha-usaha yang menguntungkan, kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi banyak orang dan sebagainya.
Dimana semua membutuhkan, waktu, kesempatan, tenaga, pikiran, ketekunan yang tidak terbatas, sehingga iblis memasukkan perangkapnya melalui kegiatan-kegiatan tersebut atau oleh iblis diarahkan untuk memperbanyak berbuat kebaikan kepada sesama, memperbanyak amalan-amalan sunnah dan lain-lain, yang semuanya itu hanya merupakan perangkap-perangkap syetan agar seseorang bisa lengah, kemudian ditumbuhkan rasa pol sendiri (ujub).
Ujub terhadap dirinya, meremehkan orang lain, dimasukkan angan-angan yang bermacam-macam yang akan membawa kemajuan, tetapi pada saat seseorang telah masuk dalam giringannya, disambarlah oleh iblis dengan cepat sehingga seseorang telah terperangkap dalam jebakannya dan iblis mendapat kemenangan dalam menyesatkannya.
Dan kalau cara-cara ini juga tidak berhasil maka iblis menguasakan kepada tentara-tentaranya yang terdiri dari jin dan manusia untuk melakukan bermacam-macam perbuatan yang menyakitkan, seperti orang yang teguh imannya tersebut dianggap kafir, sesat dan menyesatkan. Diintimidasi dan dianiaya, dirusak tempat tinggalnya, dihancurkan tempat ibadahnya dengan tujuan untuk menghentikan semua kegiatan yang hak dan benar supaya hati orang yang teguh imannya merasa bingung dan hanya disibukkan untuk menghadapi rintangan-rintangan tersebut, atau agar supaya orang lain merasa takut untuk mengikuti barang yang haq dan benar atau untuk membendung berkembangnya barang yang haq dan benar itu.
Hal yang demikian ini jelas bagi kita tidak seorang pun dari kita yang benar-benar teguh memegang agamanya, kemurniaan agamanya menetapi petunjuk sunnah Nabinya, berjalan di atas jalan terangnya, kecuali pasti dihalang-halangi, dirintangi, dihina, dipermainkan oleh famili dekat maupun famili jauh, teman-teman dan musuh, maka tidak ada tempat kembali kecuali kepada Alloh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *