Yuk, Ngabuburit Positif Tak Hanya Menunggu Adzan Maghrib Belaka!

By | Juni 23, 2015
Ngabuburit adalah Bahasa Sunda yang dipakai untuk pengganti kata menunggu waktu berbuka puasa datang. Kata ngabuburit bukan berasal dari kata “beurit” (tikus), oge sanes (juga bukan) singkatan dari “ngabubur beurit “. Kata ngabuburit berasal dari kata “burit” yang merepresentasikan waktu yang berarti sore menjelang senja yakni waktu menjelang buka puasa tadi. Pada kehidupan sehari-hari kata burit misalnya pada kalimat ” Geura balik! geus burit ieu teh, bisi diculik kalong wewe (cepat pulang! ini sudah senja, nanti diculik kuntilanak, red) ,” begitu kalimat yang suka dipakai para kolot baheula (orang tua jadul/jaman dulu) untuk memperingatkan anaknya agar cepat pulang sebelum gelap malam.
Kata ngabuburit memang hanya dipakai pada bulan ramadhan atau pada saat berpuasa, yakni mengisi waktu dengan berbagai kegiatan sambil menunggu waktu berbuka datang. 
Bagi kebanyakan orang, biasanya ngabuburit dilakukan agar lupa pada rasa haus dan lapar dan membunuh jenuh. Kapan tradisi ngabuburit ini dimulai? wallahu a’lam, tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan tradisi ini dimulai dan kapan mulai diperkenalkannya kata ngabuburit ini.
Zaman saya dulu masih kecil, kami biasanya ngabuburit dengan mandi ke sungai (sambil ngadem berendam di sungai) atau pergi memancing atau menuju suatu tempat/ berkeliling dengan sepeda. 

Dimanakah tempat ngabuburit di Bandung?

Kendati ngabuburit biasanya cenderung dilakukan oleh anak-anak yang memang menggemari ngabuburit (kalau pun yang dewasa ikut, itu cuma nganter anak-anaknya atau penggembira saja …hehe…). Biasanya ngabuburit memang dilakukan anak-anak dengan teman sebayanya seperti berenang di sungai sekalian mencari ikan, bermain lodong, bermain layang-layang di lapang atau di sawah, menyusuri rel kereta, “memancing” jangkrik kasir (jangkrik yang besar yang cara agar dia keluar dari lubangnya di isi dengan air dan tembakau, menariknya lubang jangkrik ini bersambung dari satu titik lubang ke titik lubang lainnya), ngabuburit dengan jalan-jalan, bermain bola, dan lain-lain.
Menurut buku Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryato Kunto, bentuk ngabuburit warga Bandung tempo dulu, selain mandi dan berenang di Sungai Cikapundung dan di Leuwi Pajati (lubuk di bawah Viaduct yang airnya masih jernih dan banyak ikannya), juga beramai-ramai ke taman seperti Jubilem Park (Taman Sari), Insulinde Park (Taman Lalu Lintas), dan Molukken Park (Taman Maluku). Menurut Haryato Kunto di taman-taman tersebut ada saluran air dan kolam teratai yang berisi banyak ikan seperti impun dan lain-lain. Haryoto Kunto juga menulis dalam bukunya Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe) bahwa Taman alun-alun kota memang telah menjadi pusat kegiatan ngabuburit baheula. Orang tua duduk-duduk dan berleha-leha di bawah pohon beringin Wilhemnia dan Juliana Boom sementara anak-anak sibuk bermain dengan teman-temannya.
Kita perhatikan, kebiasaan ngabuburit zaman dulu cenderung dilakukan di luar ruangan, menghirup udara segar sehingga membuat pikiran lebih positif. Juga dilakukan dengan bersama-sama baik dengan teman sebaya maupun dengan sanak saudara untuk mempererat persaudaraan.
Sementara saat ini, di zaman kekinian dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, ngabuburit masa kini pada dasarnya sama saja dengan jaman dulu yakni dalam rangka menunggu buka puasa. Namun, aktivitas ngabuburit terutama anak-anak rumahan dengan segala fasilitas media elektronik dan gadget, banyak dijumpai beraktivitas di dalam ruangan secara personal, misalnya asyik main game atau gadget dan duduk di depan televisi yang menawarkan berbagai acara menarik.

Di Bandung sebenarnya Pak Ridwan Kamil, Walikota Bandung dengan kebijakan membikin dan merevitalisasi taman dan sarana umum untuk area publik masyarakat khususnya yang ada di Kota Bandung, saat ini masyarakat bisa ngabuburit di berbagai alternatif tempat bahkan bisa berpindah-pindah tempat, seperti di  alun-alun kota Bandung, tempatnya luas beralaskan rumput sistetis, bisa juga ngabuburit di Taman Vanda, Jalan Merdeka, Kota Bandung sambil bermain air mancur dan bersantai dengan keluarga, di Taman Foto (dahulu: Taman Cempaka), Taman Jalan Mangga, Taman Superhero, Taman Balaikota, Taman Lansia, dan lain-lain. Banyak pilihan murah meriah untuk Anda mengajak anak-anak agar tidak jenuh dan nonton televisi terus.

Selain itu, di Bandung juga alhamdulillah ada kegiatan ngabuburit yang lebih positif yakni mengisi waktu berbuka puasa dengan kegiatan mengikuti pengajian dan asrama liburan. Selain positif juga berpahala. Seperti di salah satu study group pengajian di wilayah Bandung mereka membuka session pengajian yang dinamakan “buka warung” dengan mengisi pengajian makna Hadits Ibnu Majah, session pertama diadakan pagi dan session kedua dilaksanakan sambil ngabuburit menunggu adzan maghrib dari pukul 16.30 sd 17.30.

Bagaimana cara ngabuburit Anda?

Yang penting menyenangkan dan tidak membatalkan puasa, kalaupun di isi dengan bermain, tentunya jangan lupa untuk mengisi anak-anak Anda dengan mengaji ayat-ayat suci Alquran di waktu lain supaya puasa kita lebih bermakna.

Selamat ngabuburit!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *