Peran Keluarga dalam Pembentukan Karakter Anak

By | Mei 25, 2015
Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi seorang anak. Peranan keluarga memiliki potensi yang sangat besar bagi tumbuh kembang anak sejak usia dini, dimana anak diibaratkan bagai kertas putih yang polos, dan bersih, belum memiliki bentuk jiwa yang tetap, sehingga faktor keluargalah sebagai faktor pengaruh yang pertama yang akan turut membentuk karakter seorang anak. 

Pendidikan anak usia dini harus dilakukan secara holistik (menyeluruh), dimana stimulasi dini yang diberikan keluarga terhadap anak dapat mempercepat perkembangannya.

keluarga, family
Pengembangan dan pendidikan anak sejak usia dini merupakan investasi yang strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 
Keluarga berpotensi untuk mengembangkan karakter anak melalui ikatan emosi yang kuat antara orang tua dan anak. Pola pengasuhan dan prinsip-prinsip pengasuhan orang tua terhadap anak, seperti prinsip keteladanan diri, kebersamaan merealisasikan nilai-nilai moral, sikap demokratis dan terbuka, dan kemampuan menghayati kehidupan, menentukan apresiasi anak terhadap nilai-nilai disiplin diri yang ditanamkan. 
Nilai-nilai disiplin ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosi yang merupakan bagian dari pembentukan karakter anak yang utuh menyeluruh (whole person) cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran emosional dan spiritual, bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (the person within a whole). 
Berdasarkan penelitian, kecerdasan emosi (EQ/Emotional Quotient), berperan sekitar 80 persen terhadap keberhasilan seseorang hidup di masyarakat, dan hanya 20 persen bagian lainnya ditentukan oleh faktor lain, termasuk faktor kecerdasan (IQ/Intellegence Quotient).
Pendidikan anak pada usia dini, memiliki potensi yang cukup besar. Anak pada usia dibawah 7 tahun, mengalami perkembangan otak sebesar 90 persen. Dimana pada tiga tahun pertama, terbangun fondasi struktur otak yang berdampak permanen. 
Jika terjadi pendidikan yang salah pada masa perkembangan ini, dapat menurunkan kreativitas anak hingga turun 90 persen, dan kelak pada usia 40 tahun, kreativitasnya bisa hanya tinggal 2 persen. 
Pendidikan karakter anak pada usia dini, sejatinya dilakukan oleh lingkungan keluarga, yang mengacu pada 9 pilar karakter, yaitu :
  1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya
  2. Kemandirian, disiplin, dan tanggungjawab,
  3. Kejujuran/amanah dan diplomatis,
  4. Hormat dan santun,
  5. Dermawan, suka menolong dan kerjasama,
  6. Percaya diri, kreatif dan pantang menyerah,
  7. Keadilan dan kepemimpinan,
  8. Baik dan rendah hati
  9. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Upaya pembentukan karakter yang kuat tersebut, tentulah tidak dapat dilakukan secara instan, namun memerlukan usaha yang terus menerus berkesinambungan, dan pihak keluargalah yang memiliki potensi besar dalam pembentukan karakter-karakter tersebut, karena pihak sekolah memiliki keterbatasan ruang dan waktu dalam pembentukan karakter-karakter di atas.
Terkadang karena berbagai faktor yang menjadi alasan, orang tua menyerahkan pendidikan anak-anaknya pada beberapa lembaga sekolah berlabel plus dengan harapan si anak mendapatkan tambahan ‘plus’ dari sekolah tersebut. 
Hanya saja terkadang karena kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak, serta antara orang tua dan pihak sekolah, terjadi kontra pendidikan antara rumah dan sekolah, sehingga nilai ‘plus’ yang diharapkan tersebut tidak diperoleh di rumah, namun justru tertinggal di sekolah. Oleh karena itu, dalam tujuan membentuk karakter anak yang holistik, sangat perlu diperhatikan perilaku pola/prinsip pengasuhan orang tua/lingkungan keluarga terhadap anak. 
Jika menerapkan pendidikan yang salah, itu sama saja dengan membunuh karakter anak tersebut.
Orang tua perlu mencari benang merah dan sinkronisasi beberapa hal yang utama, yang membantu anak mengembangkan hal-hal dasar dalam kepribadiannya. 
Sebagaimana orang tua memilih sekolah yang sesuai dengan orientasi nilai dan harapan mereka, begitu pula orang tua sejatinya mengadaptasikan pola-pola pendidikan yang konstruktif dan positif dari sekolah. Saling mengisi, bukan saling meniadakan. 
Komunikasi antara orang tua dan anak serta komunikasi anatara orang tua dan pihak sekolah menjadi hal penting untuk dilakukan. Karena, ketika terjadi “sesuatu” pada anak, kita tidak dapat semata-mata menunjuk pihak sekolah sebagai penyebabnya. Bisa saja persoalan memang terjadi di sekolah, namun kita harus melihatnya secara bijaksana, karena reaksi seorang anak terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dilaluinya, dan pola asuhlah yang paling mendominasi bentukan sikap dan kepribadiannya. 
Jadi, perlu disadari betul bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi pendidikan dan perkembangan karakter anak. Sekolah pada dasarnya hanya mengarahkan, memberikan bimbingan dan kerangka bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan berkembang. Keluargalah pusat dari segala pusat pembelajaran.

One thought on “Peran Keluarga dalam Pembentukan Karakter Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *